top of page
Search

Rumah

  • Writer: zya
    zya
  • 2 days ago
  • 7 min read

Updated: 13 hours ago

Silakan diplay dulu ya, memang ada jeda sebelum musiknya dimulai, kalau angka timernya udah mulai berarti udah keplay. Enjoy! :p

waking up together with u

"Aku udah di depan ya, Sayang"


Senyum merekah tercipta dari birai pemuda cantik itu saat membaca satu bubble chat yang muncul dari gawai kesayangannya. "oke bentar" dengan gerakan secapat kilat, jemari Hema membalas pesan sang kekasih, lalu bergegas menuruni anak tangga yang melingkar di dalam rumah gedong-nya. Tepat saat Hema sampai di bibir pintu, didapatinya pemuda jangkung berhidung mancung 'miliknya' sedang menata rambut di balik spion motor. Hema kemudian berhenti sejenak hanya beberapa detik sebelum melanjutkan langkahnya ke pekarangan rumah. Ia tidak mau menyia-yiakan pemandangan langka itu, sebab biasanya kekasihnya datang dengan kendaraan beroda empat.


"Kenapa tiba-tiba pengen jalan-jalan pake motor?" tanya pemuda yang sedari tadi menunggu kekasih hatinya keluar dari pekarangan rumah sembari memberikan helm berwarna cokelat tua pada Hema.


"Cuacanya lagi bagus aku kepingin aja jalan-jalan pake motor, lagian udah lama ngga'',  kemudian memberikan satu dari dua earbuds miliknya pada Mavendra. "Aku udah siap, Ga", sambil menepuk pundak Mavendra, Hema sudah terduduk di jok penumpang lalu menyetel lagu yang tadi belum tamat Ia dengarkan.


Ba, sementara, kita mesra-mesraannya

Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu milik Sal Priadi mengalun membersamai perjalanan sejoli itu. Hema memang lebih menyukai lagu-lagu popular Indonesia, local pride katanya. Motor yang dibawa Mavendra mulai membelah Kota Bandung, menyusur Jalan Laswi hingga Jalan Asia-Afrika.


"Kamu tau gak? udah dua tahun aku tinggal di Bandung, aku ngga pernah bosen tiap kali lewat Viaduct", Hema membuka percakapan, kemudian dijawab dengan kekehan kecil Mavendra. "Soalnya nama jalannya kayak nama kamu, Suniaraja", timpannya lagi sambil ber-haha-hihi dan mengencangkan tautan kedua tangannya hingga merapatkan posisi dada miliknya pada punggung lebar milik Mavendra.


"Aku dulu sempet punya rumah di sini, makanya nama belakangku Suniaraja"


"Wah iya?", rasa penasaran Hema membuncah, Ia memiringkan kepala yang Ia tumpukan di bahu Mavendra. "Iya, sebelah sana, rumahnya lagi dilelang", saut Mavendra disusul dengan lepasnya tangan kiri miliknya pada stang motor dan menunjuk ke arah barat.


"Ih sayang banget, aku boleh lihat ngga, Ga? Aku pengen lihat rumahnya"


"Boleh, Kita putar balik dulu ya, di depan", Hema mengangguk.


Tidak lama setelah mereka berputar, Mavendra membawa motornya ke tepi jalan, "Kenapa berhenti?", Hema kebingungan. "Mau telpon dulu yang jaga, aku kan ga bawa kuncinya". Hema kemudian ber-oh-ria. Sedangkan Mavendra yang tengah sibuk dengan gawainya menampilkan senyum manis saat melihat pacar-nya mengerucutkan bibir dari spion motor. Hingga kemudian panggilan Mavendra akhirnya tersambung. "Mang, aya nu badé ningali bumi.... Moal, teu kedah... Hun, ieu kedap deui dugi"


"Kedap itu apa?" tanya Hema sesaat setelah Mavendra menutup telepon singkatnya itu. "Sebentar", jawab Mavendra. Hema mengangguk dengan wajah seperti masih menunggu jawaban arti kata kedap. Mavendra terkekeh lalu melanjutkan "Maksudnya artinya sebentar". Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Suniaraja itu. Sepanjang sisa perjalanan, Hema terus menanyakan kata-kata berbahasa sunda yang Ia tadi dengar dalam percakapan Mavendra dan Amang penjaga rumahnya itu.


"Kalau badé?"


"Badé itu artinya mau"


"Hema badé Arga"


Mavendra hanya tertawa mendengar celetukan yang dilemparkan kekasihnya itu, "Ngga gitu, sayang, gabisa ditempelin ke sembarang kalimat".


"Loh kata kamu artinya mau"


"Iya iya, nah udah sampai"



Tak sampai lima menit, keduanya sudah sampai di depan rumah bertuliskan RUMAH INI DIJUAL. Hema menatap sekeliling rumah itu, nyatanya di tengah hiruk pikuk Kota Bandung masih ada rumah dengan lingkungan asri seperti yang tengah dilihatnya itu. "Kenapa rumahnya dilelang?" Hema bertanya sambil melepaskan helm yang sedari tadi menempel di kepalanya kemudian mengikuti langkah Mavendra masuk ke pekarangan rumah.


"Udah ga ditempatin, tadinya Ibu mau kasih buat aku, tapi aku gak mau... ngga cocok aja sih. Terlalu kecil juga kayaknya kalau buat kita, ya?" Mavendra berbalik badan menampilkan gestur bertanya yang hanya dijawab dengan anggukan Hema.


"Mang, ieu nu badé ningal bumi", Mavendra mulai bercakap diikuti gestur salim pada Mang Mamatorang yang tengah menunggu keduanya datang di depan pintu."Ah ieu mah calonna Aa nya?" , Mavendra terkekeh "Kitu we Mang, duakeun nya". Hema yang mendengar kata calon hanya mampu tersipu malu, mengangguk lalu menampilkan deretan gigi rapinya.


"Yuk", ajak Mavendra pada Hema. Keduanya kini masuk ke rumah gedong yang pikir Hema lebih mirip rumah yang dipakai syuting film Dilan 1990. Hema memperhatikan tiap-tiap sudut rumah kosong itu dengan seksama.


"Dulu ini ruang tamu, Ibu pasang sofa warna biru kesukaanku, di bawahnya meski pakai tehel yang bagus, tetap Ibu kasih karpet", Mavendra mulai menceritakan tiap sudut rumahnya, sedang Hema setia mendengarkan, memperhatikan sembari menikmati rupa tampan kekasihnya. "Lalu di depannya ini Ibu pasang semacam rak kecil, di atasnya Ibu taruh foto-foto keluarga", lanjut Mavendra dengan tangannya yang tak mau diam seolah-olah sedang menunjukkan bentuk satu ke bentuk lainnya, sesekali terdiam membayangkan masa-masa saat Ia menempati rumahnya ini.


"Nah kalau ini ruang keluarga, dulu ada TV kotak di sini, tempat aku main mobil mobilan yang Bapak beli dari Pasar Baru", Hema ber-oh-ria menatap takjub setiap sudut ruangan yang Ia dan Mavendra lewati. "Lalu ini kamar Ibu dan Bapak, aku dulu kalau nangis karena dimarahin Bapak, ngumpetnya di sana", Mavendra terkekeh sambil menunjuk pojok ruangan, dalam bayangannya ada lemari jati besar tempat Ia sembunyi.


"Kalau kamar kamu di mana?", tanya Hema. Kemudian keduanya berjalan ke ruangan sebrang kamar yang tadi disebut sebagai Kamar Ibu-Bapak. "Di sini", jawab Mavendra. "Dulu, ini ada jendelanya sebelum akhirnya Bapak bongkar...", Mavendra terdiam sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya "soalnya aku suka manjat, lalu kabur."


"Kamu kangen Bapak ya?", Mavendra hanya mengangguk. Hema kemudian memeluk kekasihnya itu dari belakang, melingkarkan tangannya di perut ramping milik Mavendra. "Maaf yah..", Hema menenggelamkan kepalanya pada punggung lebar Mavendra, Ia tahu saat ini 'Arga'-nya itu sedang menangis kecil.


"Arga, rumahnya kalau kamu masih punya kenangan, jangan dilelang yah? Biarin aja kamu urus, kamu masih banyak uang juga", Hema berbicara dibalik punggung Mavendra sambil mengelus perut rata milik kekasihnya.


Mavendra membuang nafas asal kemudian berbalik badan, tangannya mengambil wajah gembil kekasihnya dan mencuri kecupan kecil di bibir buntal milik Hema Candra-nya.


"Kita nikah yuk?"


"..........."


Kaget bukan main, Hema yang wajahnya tengah ditangkup kedua telapak tangan Mavendra, dengan nafas menderu halus; mengedipkan mata sayunya berkali kali. "Nikah sama aku, Ra. Nanti kita buat rumah baru buat kita, kita cicil memorinya", Mavendra kemudian melepaskan tangkupan tangannya, kedua matanya tetap intens menatap netra kekasihnya.


"Kita isi memorinya dengan kenangan-kenangan baru, isinya kamu, aku, anak-anak kita, tiap sudut rumah kita nanti, tiap jalanan yang kita lewati nanti. Mau ya, Ra? Mau ya nikah sama aku?" lanjut Mavendra, lalu bertekuk satu lutut dan mengeluarkan satu cicin emas putih dari dalam sakunya. "Hema Candra-ku mau gak kalau nikah sama aku? Bangun rumah baru sama aku? Punya keluarga kecil sama aku?". Hema masih terdiam, masih memproses tiap-tiap detik yang baru saja Ia lalui.


Ditatapnya mata pemuda yang tengah melamarnya itu, dengan perasaan campur aduk kata "Mau" kemudian keluar dari mulut pemuda cantik milik Mavendra. Senang bukan main, Mavendra tersenyum lebar menampilkan guratan garis tipis di antara pipi dan bibirnya, lalu memasangkan cincin yang setahun kebelakang hanya bisa Ia bawa dalam saku celananya.


Diangkatnya Hema oleh kedua tangan kekar miliknya hingga si empu kelimpungan. Berputar... berputar... berputar... Mavendra seolah-olah mendengar alunan Waking Up Together With You dari dalam pikirannya. Mavendra menyelundupkan wajah tampannya di perut Hema yang kini sejajar dengan kepalanya, dia kecupi perut itu hingga Hema nampak kegelian. Sudah puas dengan kelakuannya, Ia menurunkan Hema dari pangkuannya dan membawanya masuk ke dalam pelukan hangat, "Makasih, Ra, sudah buat aku jadi makhluk Tuhan paling berbahagia".


Tidak lama, pelukan itu Mavendra lepaskan, Ia tarik tengkuk Hema, dicurinya kecupan kecil dari bibir mungil nan tebal milik Hema. Tidak puas dengan hanya kecupan kecil, tangan kiri Mavendra kembali menarik tengkuk Hema kali ini lebih dalam, sedangkan tangan kanannya menahan pinggang ramping tubuh yang lebih kecil membuat Hema sedikit berjinjit. Peraduan kedua bibir itu seolah menjadi tanda bahwa saat ini keduanya tengah merasakan perasaan paling bahagia. Lumatan lembut yang didominasi Mavendra buat Hema mabuk kepayang, Ia kalungkan tangan dengan jemari lentiknya itu pada leher Mavendra hingga mengikis jarak antara keduanya. Masing-masingnya saling memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri, mencari posisi paling enak.


Dalam posisi itu, lidah Mavendra ikut memainkan peran, diabsennya satu persatu gigi milik si cantik, sedang Hema mengeluarkan lenguhan kecil. Lenguhan demi lenguhan dikeluarkan Hema membuat Mavendra sadar kekasihnya hampir kehabisan nafas. Mavendra melepaskan ciumannya dengan lembut. Ia tatap lekat-lekat kedua netra Hema, lalu Ia kecup tiap sudut rupa cantik kekasihnya. Hema hanya bisa menutup kedua matanya, menikmati kelakuan kekasihnya itu. Rasa-rasanya Hema ingin menyampaikan beribu terima kasih dan ungkapan cinta tiada tara pada Mavendra, sebab Ia selalu merasa menjadi orang paling bahagia tiap kali telatah cinta Mavendra berikan.



"Mau pulang atau mampir angkringan dulu?", tanya Mavendra. "Keliling dulu terus ke angkringan", pinta Hema yang disetujui Mavendra dengan anggukan kecil sebelum akhirnya keluar dari rumah yang dindingnya menjadi saksi cinta mereka.


Kini keduanya sudah berada di atas motor, "Kemana?", tanya Hema sesaat setelah Mavendra turun tiba-tiba dari motornya. "Nyopot plang", jawab Mavendra sambil berjalan berbalik arah. Ah, ternyata Mavendra berjalan untuk menurunkan tulisan RUMAH INI DIJUAL. Hema kebingungan melihat Mavendra menenteng plang rumah itu, dengan telaten Mavendra simpan tulisan itu di pojok garasi tak berpintu. "Kenapa dicopot?", tanya Hema penasaran, "Rumahnya buat kamu, buat kita, dan anak-anak kita nanti", jawab Mavendra dibarengi dengan tancapan gas motor meninggalkan rumah miliknya, sedangkan Hema hanya bisa tersenyum tipis sambil menyamankan posisi pelukan dari belakang punggung Mavendra.


Perjalanan menuju angkringan favorite keduanya terasa lebih lama, sebab Mavendra memilih jalan memutar agar Ia lebih bisa menikmati perjalanan ini lebih panjang. Dalam pikirannya sudah banyak skenario yang terjadi, terlebih setelah Ia membahas isi rumah yang tidak jadi dijualnya itu. Ia membayangkan Hema-nya di masa depan menyusun perabotan dengan teliti, menyutradarai tata letak rumah, dan mengatur furnitur rumahnya.


"Kalau ini cocok gak? kayaknya mending warna biru deh, Ga"

"Ih rak piringnya simpan di pojok kanan aja biar ga ngalangin"

"Kita pasang lagi aja ya jendelanya, biar ga hareudang"


Dan segala macam bentuk percakapan muncul dalam imajinasinya. Mavendra sendiri hanya tersenyum, bibirnya terkedut-kedut membayangkan hal-hal baik di masa depan.


Tak hanya Mavendra, dalam pelukan eratnya Hema turut membayangkan hal-hal bahagia. Di masa depan Ia dan Mavendra, mengisi rumah kecil tadi dengan gelak tawa, mengisinya dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang mereka bagi dengan anak-anaknya kelak. Hema bahkan berimajinasi bagaimana jika kemudian Ia dan Mavendra memiliki dua anak, laki-laki dan perempuan, keduanya berlarian di rumah milik keluarga kecilnya.


"Bapak, lihat Teteh gamau kasih pensilnya buat adek"

"Bapak, itu tolong TVnya dimatikan dulu"

"Yayahhhhh! Bapak gelitikin adek wae"


Dan banyak lagi percakapan kecil yang diciptakan dari pikirannya sendiri. Hema mengeratkan pelukannya, tersenyum kecil dan sesekali menutup matanya. Kata orang-orang 'Kota Bandung sekarang udah gak romantis, isinya cuma banjir', tapi bagi mereka berdua, Kota ini tetap menjadi bagian dari kebahagiaan yang mereka sendiri ciptakan.


waking up tomorrow with you.

waking up together with you.


 
 
 

Comments


 

© 2025 by itsmahae. Powered and secured by Wix 

 

bottom of page